Oleh: Mohammad Julianto
Saya menuliskan opini ini berdasarkan pemikiran yang saya tangkap dari obrolan hangat bersama Tokoh Pendidikan & Tokoh yang turut serta memberi arah dalam Pemekaran Daerah Bolaang Mongondow sejak ikhtiar pemekaran secara administratif ini dimulai bersama para tokoh daerah, Drs. Hi. Jainuddin Damopolii. Kami membahas tentang Pembangunan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), sebab ini bukan sekadar proyek pendidikan. Ia adalah keputusan strategis yang akan menentukan arah geoekonomi dan masa depan sumber daya manusia daerah ini.
Dan jika pilihan dimana lokasi pembangunannya harus ditentukan, dalam obrolan hangat itu kami dapatkan jawabannya jelas, PTN sebaiknya dibangun di Lolak. Opini ini dapat dibaca sebagai saran, bagi pemerintah daerah mengambil keputusan terbaiknya, kita mulai dari alasannya.
Mengapa?
Karena Lolak bukan hanya ibukota administratif, tetapi simbol transformasi. Ia lahir dari desa yang kemudian ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow. Transformasi dari Desa menjadi Ibukota ini tidak otomatis menjadikannya pusat pertumbuhan. Ia membutuhkan “mesin penggerak”, dan PTN adalah mesin itu.
Lolak dalam Perspektif Geoekonomi
Dalam teori geoekonomi, wilayah berkembang bukan hanya karena letaknya, tetapi karena adanya aktivitas bernilai tambah tinggi yang menetap dan berkelanjutan. Kampus negeri adalah katalis pertumbuhan itu.
PTN di Lolak akan dapat meningkatkan arus manusia (mahasiswa, dosen, peneliti, dll), mendorong tumbuhnya UMKM, kos-kosan, jasa transportasi, kuliner, dan properti. Perputaran itu akan mengakselerasi pembangunan infrastruktur, mengangkat nilai tanah dan investasi kawasan.
Ibukota baru tidak cukup hanya dengan kantor bupati dan gedung DPRD, dan fisik bandara saja, ia membutuhkan pusat gagasan, pusat inovasi, pusat riset. Tanpa itu, Lolak hanya akan menjadi kota administrasi dan bukan kota peradaban.
Efek Berganda Ekonomi
Sejarah menunjukkan, setiap kota yang memiliki perguruan tinggi negeri mengalami akselerasi ekonomi yang signifikan. Kampus menciptakan ekosistem usaha yang progresif:
1. Ekonomi harian mahasiswa.
2. Perputaran uang jangka panjang.
3. Kelas menengah baru.
4. Ekosistem intelektual
Maka mendirikan PTN bukan beban APBD, melainkan investasi sosial jangka panjang. Jika kampus dibangun di luar ibukota, maka manfaat pertumbuhan akan terfragmentasi. Namun jika dibangun di Lolak, efek pengganda (multiplier effect) akan mempercepat transformasi ibukota menjadi pusat gravitasi ekonomi Bolmong.
Ibukota Harus Diperkuat, Bukan Ditinggalkan
Sebagai ibukota yang relatif baru, Lolak masih dalam tahap konsolidasi identitas dan struktur ekonominya. Justru karena itu, ia perlu dirangsang, sebab ia wajah Kabupaten. Jika pusat pemerintahan dipisahkan dari pusat pendidikan tinggi, maka koordinasi kebijakan, riset dan pembangunan akan kurang optimal.
Kampus yang dekat dengan pusat pemerintahan akan memberikan kemudahkan kolaborasi riset kebijakan publik dan menjadi think tank daerah dalam menata kawasan. Dengan begitu PTN akan berperan lebih maksimal sebagai mitra strategis pemerintah kabupaten. Sebab, PTN di Lolak akan mempercepat lahirnya generasi teknokrat, ekonom, agronom dan inovator lokal yang memahami persoalan Bolmong dari dalam.
Menghentikan Migrasi Intelektual
Ini yang paling penting, selama ini, banyak putra-putri Bolmong harus keluar daerah untuk menempuh pendidikan tinggi, dan sebagiannya tidak kembali ke daerah. Ini yang disebut brain drain, tapi dengan PTN di Lolak maka Akses pendidikan lebih dekat, biaya lebih terjangkau, SDM unggul lebih mungkin bertahan dan membangun daerah, dan itu berarti memperkuat Indeks Pembangunan Manusia Bolmong secara signifikan.
Momentum Sejarah
Pembangunan PTN bukan hanya soal gedung dan fakultas. Ini adalah keputusan sejarah. Jika Lolak ingin benar-benar menjadi ibukota yang hidup, bukan sekadar simbol administratif, maka ia harus memiliki pusat ilmu pengetahuan.
Kampus negeri di Lolak akan menjadi Simbol kemajuan, Pusat pertumbuhan ekonomi baru dan Laboratorium inovasi berbasis potensi lokal. Ia akan menjadi Penopang visi Bolmong jangka panjang. Karenanya, Ibukota baru membutuhkan keberanian kebijakan. Dan keberanian itu adalah membangun masa depan dari pusatnya.
Menutup obrolan hangat kami, sosok yang sering kami sapa “Ayahanda” ini menegaskan, keinginan saya untuk memajukan pendidikan di Lolak sejak awal bisa dilihat dari bangunan SMK yang menjadi sekolah pertama di Lolak, dan kesempatan ini tidak boleh dilewatkan sudah saatnya kita memandang pembangunan PTN bukan sekadar distribusi lokasi, tetapi strategi geoekonomi jangka panjang.
Jika ingin Lolak tumbuh cepat, kuat, dan berkelas, maka bangunlah kampus di sana. Karena kota yang memiliki perguruan tinggi negeri bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun peradaban.
Inta
🙏
*Penulis adalah dosen di INJADI Kotamobagu










