Oleh: Mohammad Julianto
PERSPEKTIF CATURAH – Sebelum Bolaang Mongondow Raya menjadi peta administratif seperti hari ini, wilayah kaya dan mengisi lebih dari 50% luas Wilayah Sulawesi Utara ini pernah lebih dulu menjadi ruang peradaban yang bersatu dan keren kata anak zaman now.
Kerajaan – kerajaan di kawasan ini dengan segala perbedaan dan kedaulatannya telah menorehkan catatan sejarah manis, ketika mereka memilih untuk terikat dalam satu perjanjian luhur Paloko bo Kinalang. Itu bukan sekadar kesepakatan politik, tetapi ikrar kebudayaan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk tercerai.
Dari fondasi itulah kemudian wilayah Bolaang Mongondow memasuki fase baru dalam sejarah yang gemilang, bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Para leluhur tidak menyerahkan kedaulatan dengan terpaksa, tetapi dengan kesadaran bahwa kesatuan yang lebih besar akan memberi masa depan yang lebih adil. Bolaang Mongondow menjadi satu kabupaten (terbesar) bagi rumah bersama untuk pesisir, pegunungan, timur, barat, selatan dan utara.
Namun sejarah memang tidak pernah berhenti ia akan terus bergerak mencari bentuknya disetiap fase. Seiring waktu, jarak pelayanan, ketimpangan pembangunan dan kebutuhan masyarakat mendorong lahirnya pemekaran. Kabupaten besar itu melahirkan kota dan kabupaten – kabupaten baru. Seperti dulu kerajaan-kerajaan yang bersatu, kini daerah – daerah ini kembali berdiri dengan kewenangan masing-masing.
Tetapi ada satu pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan kembali, siapa yang “dipercaya” menjaga benang merahnya?
Pemekaran seharusnya tidak memutus sejarah. Ia seharusnya menjadi cara baru merawat kebersamaan lama. Seperti Paloko bo Kinalang dulu, pemekaran hanya bermakna jika tetap menjaga rasa sebagai satu keluarga besar Bolaang Mongondow.
Di setiap fase besar sejarah ini dari kerajaan ke NKRI, ke kabupaten induk, hingga daerah otonom “harus” selalu ada tipe manusia yang perannya sangat menentukan yaitu mereka yang bekerja di “diantara”, bukan di satu sisi. Mereka yang memastikan bahwa perubahan struktur tidak berubah menjadi perpecahan identitas.
Hari ini, ketika Bolaang Mongondow Raya berdiri sebagai “kawasan/regional” daerah otonom, kita kembali membutuhkan tipe pemimpin yang sama sebagai penjaga kesinambungan sejarah.
Ini bukan nostalgia masa lalu, tetapi jembatan antara warisan dan masa depan. Karena tanpa jembatan itu, pemekaran hanya akan melahirkan wilayah – wilayah yang berdiri sendiri, tetapi kehilangan ruh kebersamaannya.
INTA 🙏









